![]() |
Nama gue Pak Sardi, enam puluh satu tahun, pensiunan nelayan. Sekarang gue cuma duduk di teras, ngopi, dan lihat laut dari kejauhan karena lutut gue sudah tidak mengizinkan gue naik perahu lagi. Istri gue sering bilang, gue terlalu banyak mengamati urusan orang lain. Mungkin istri gue benar. Tapi kalau gue tidak mengamati, tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi di rumah sebelah selama hampir dua tahun itu.
Tentang
Kampung Kami
Kampung kami namanya
Dusun Kalongan. Terletak di pesisir selatan Jawa, sekitar dua belas kilometer
dari Parangtritis. Bukan desa wisata. Bukan desa yang ada di peta mana pun yang
dijual di toko buku. Kami hanya ada di mulut ke mulut, dan bahkan itu pun
jarang.
Penduduknya sekitar dua
ratus jiwa. Hampir semua nelayan atau istri nelayan. Rumah-rumah menghadap ke
utara membelakangi laut, karena nenek moyang kami bilang tidak sopan memandang
laut selatan terlalu lama. Laut itu punya pemilik, dan pemiliknya tidak suka
ditatap.
Gue lahir di sini. Gue
akan mati di sini, dan selama enam puluh satu tahun hidup di tempat ini, gue
sudah terbiasa dengan hal-hal yang orang kota akan sebut tidak masuk akal. Ombak
yang bersuara seperti nama seseorang di malam tertentu. Bau kemenyan yang
datang dari arah laut waktu angin bertiup dari selatan. Nelayan yang hilang dan
ditemukan tiga hari kemudian di pantai yang berbeda dalam kondisi selamat tapi tidak bisa
mengingat apapun yang terjadi selama tiga hari itu.
Kami tidak membicarakan
hal-hal itu dengan keras. Kami hanya tahu bahwa ada aturan-aturan tidak
tertulis yang harus diikuti kalau mau hidup tenang di tanah ini. Salah satunya
adalah : jangan terlalu dekat dengan orang yang baunya sudah berubah.
Tentang
Rumah Sebelah
Rumah di sebelah kanan
rumah gue sudah kosong selama tiga tahun sebelum akhirnya ada yang menempatinya
lagi. Pemilik lamanya pasangan tua, Pak Marno dan istrinya pindah ke Wonogiri
ikut anak mereka. Rumahnya ditinggal begitu saja, kuncinya dititipkan ke gue. Lalu
suatu hari, sekitar pertengahan 2020, ada perempuan yang datang ke rumah gue,
dan bilang dia sudah menghubungi keluarga Pak Marno dan menyewa rumah itu. Perempuan
itu namanya Lastri.
Usianya waktu itu
mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Gue tidak bisa terlalu tepat karena ada
sesuatu yang aneh dengan wajahnya dari pertama kali gue lihat, wajahnya
terlihat lebih tua dari tubuhnya, atau mungkin sebaliknya, gue tidak bisa
memutuskan. Dia datang sendirian, tidak ada suami, tidak ada anak, tidak ada
keluarga yang mengantar. Hanya dia dan satu koper besar, satu tas ransel, dan
satu bungkusan yang dibungkus kain jarik hitam yang dia pegang sepanjang waktu,
tidak pernah diletakkan, tidak pernah dilepas dari tangannya.
Istri
gue nyiapin teh dan mengajak ngobrol seperti biasa. Lastri ramah, bicaranya
pelan, menjawab pertanyaan dengan cukup tapi tidak berlebihan.
Dari
mana asalnya — Cilacap.
Kenapa
pindah ke sini — Mau tenang, katanya. Mau dekat laut.
Kerja
apa — Tidak kerja, katanya. Masih ada simpanan.
Waktu istri gue masuk
ke dapur, gue sempat menatap bungkusan jarik hitam yang ada di pangkuan Lastri.
Dari celah lipatannya, gue lihat sesuatu yang hitam dan panjang menjuntai
keluar. Rambut.
Bulan
Pertama
Lastri jadi tetangga
yang baik di bulan pertama. Tidak berisik. Tidak mengganggu. Sesekali memberi
ikan kalau dapat rezeki lebih dari pasar. Sesekali mampir ngobrol sebentar di
pagi hari. Tapi ada dua hal yang gue notice sejak hari pertama. Pertama, Lastri
tidak pernah menjemur pakaian di siang hari.
Ini hal kecil. Tapi di
kampung pesisir seperti ini, menjemur pakaian adalah aktivitas pagi yang tidak
bisa tidak dilakukan. Angin laut dan matahari adalah kombinasi terbaik untuk
mengeringkan baju yang susah kering karena udara lembab sepanjang waktu. Semua
orang menjemur pakaian di pagi sampai siang. Lastri menjemurnya setelah
maghrib.
Gue
tanya suatu hari — dengan santai, basa-basi tetangga biasa.
Dia
bilang kulitnya sensitif. Tidak tahan panas matahari langsung.
Gue
terima jawaban itu. Waktu itu.
Kedua, Setiap malam
Jumat, ada bau yang datang dari rumah Lastri. Bukan bau masakan. Bukan bau
rokok. Bau kemenyan. Dicampur sesuatu yang lebih berat dan lebih manis bunga,
mungkin, tapi bunga yang sudah layu, bukan yang segar. Gue kenal bau itu.
Di kampung pesisir
selatan, bau itu bukan hal yang sepenuhnya asing. Ada orang-orang yang
melakukan laku tertentu pada malam-malam tertentu membakar kemenyan, menaruh
sesaji, mengirimkan doa ke leluhur atau ke sesuatu yang lebih tua dari leluhur.
Gue tidak tanya soal itu. Di sini, ada hal-hal yang lebih sopan untuk tidak
ditanyakan.
Bulan
Ketiga Sesuatu Berubah
Perubahan itu tidak
datang tiba-tiba. Datangnya pelan, seperti air pasang yang naiknya tidak terasa,
sampai tiba-tiba lutut kamu sudah basah. Yang pertama berubah adalah penampilan
Lastri. Bukan berubah menjadi lebih buruk, tapi justru sebaliknya dan itu yang
membuat gue dan istri gue membicarakannya diam-diam.
Lastri terlihat lebih
muda dari bulan ke bulan. Kulitnya lebih cerah, matanya lebih bersinar, cara
jalannya berubah lebih ringan, lebih percaya diri. Istri gue bilang mungkin
udara laut cocok sama dia. Gue tidak bilang apa-apa, tapi gue mengamati lebih
cermat.
Yang kedua berubah
adalah frekuensi bau kemenyan itu. Kalau sebelumnya hanya malam Jumat, sekarang
hampir setiap malam. Dan intensitasnya lebih pekat. Kadang pagi hari gue bangun
dan sisa baunya masih ada di udara, seperti menempel di serat kayu rumah gue
yang berbatasan langsung dengan rumah Lastri.
Yang ketiga, dan ini
yang paling membuat gue tidak nyaman adalah suara. Sekitar bulan ketiga, gue
mulai dengar suara dari rumah Lastri di tengah malam, bukan suara keras. Justru
sangat pelan seperti seseorang sedang berbicara dengan ritme yang konstan bukan
percakapan biasa, tapi seperti mantra, atau hitungan, atau keduanya. Suaranya
selalu berhenti tepat sebelum azan subuh.
Pertemuan
dengan Mbah Parti
Mbah Parti adalah
perempuan tertua di kampung kami. Usianya tidak ada yang tahu pasti dia sendiri
bilang sudah lupa, tapi yang jelas dia sudah ada sejak sebelum orang tua gue
lahir. Dia tinggal di ujung kampung, dekat muara sungai kecil yang mengalir ke
laut. Rumahnya selalu harum serai dan jahe. Gue pergi ke sana suatu sore,
pura-pura mampir karena anak buah Mbah Parti baru dapat tangkapan besar dan gue
mau beli ikan. Tapi tujuan gue yang sesungguhnya adalah bertanya.
Gue ceritakan tentang
Lastri. Tentang bau kemenyan. Tentang suara di tengah malam. Tentang perubahan
penampilan yang membuat gue tidak nyaman. Mbah Parti mendengarkan sambil
memilah ikan. Tidak memandang gue, tangannya terus bergerak. Waktu gue selesai
cerita, dia diam lama. Lalu dia tanya satu hal.
"Rambuté,
Kang. Rambuté Lastri — panjang ta?"
Gue
bilang iya. Sangat panjang sampai pinggang, hitam pekat.
Mbah
Parti mengangguk pelan.
"Lan
saben esuk, ana rambut panjang ing ngarep omahe?" (Dan setiap pagi, ada rambut
panjang di depan rumahnya?)
Gue diam. Gue baru
sadar bahwa memang ada. Gue sudah lihat berkali-kali tapi tidak pernah
menghubungkannya dengan apapun. Hanya selalu gue anggap rambut yang rontok
terbawa angin.
"Iku
dudu rambut sing rontok, Kang," kata Mbah Parti pelan. (Itu bukan rambut
yang rontok, Kang.)
"Iku
rambut sing wis dienggo. Sing wis diobong. Sisiné." (Itu rambut yang sudah
dipakai. Yang sudah dibakar. Sisanya.)
Gue
tanya — dipakai untuk apa.
Mbah
Parti akhirnya menatap gue. Matanya yang sudah sangat tua itu menatap gue
dengan ekspresi yang gue tidak bisa baca dengan tepat, antara kasihan dan waspada.
"Ritual
Rambut Sewu, Kang. Nanging iki dudu Rambut Sewu sing biasa. Iki Rambut Sewu
Segoro." (Ritual Rambut Sewu, Kang. Tapi ini bukan Rambut Sewu biasa. Ini
Rambut Sewu Segoro.)
Gue tidak pernah dengar
istilah itu sebelumnya. Mbah Parti menjelaskan dengan singkat dan dengan nada
suara yang membuat gue merinding meski udara sore itu panas. Rambut Sewu Segoro
(Rambut Sewu Laut) adalah varian dari ritual yang sama tapi dilakukan di daerah
pesisir selatan, di mana kekuatan laut digunakan sebagai amplifier. Sebagai
penguat ritual yang sama jelasnya bekerja, kata Mbah Parti, tapi dengan harga yang
berbeda.
"Yen
Rambut Sewu biasa mbayar karo awake dewe — Rambut Sewu Segoro mbayar karo
liyané." (Kalau Rambut Sewu biasa membayar dengan dirinya sendiri — Rambut
Sewu Segoro membayar dengan orang lain)
Gue tanya — orang lain
yang mana.
Mbah Parti tidak
menjawab.Dia hanya menatap ke arah kampung ke arah rumah Lastri yang bisa
dilihat dari sini kalau cuaca cerah. Dan gue menyadari bahwa pandangan itu
bukan mengarah ke rumah Lastri, tapi ke rumah-rumah di sekitarnya.
Bulan
Kelima Tetangga Mulai Sakit
Hal pertama yang gue
notice adalah istri Pak Kumis, tetangga
dua rumah dari Lastri, tiba-tiba jatuh
sakit. Bukan sakit yang bisa dijelaskan dokter puskesmas. Badannya lemas,
rambutnya rontok, nafsu makannya hilang. Dokter bilang mungkin anemia, kasih
suplemen. Seminggu tidak membaik. Dibawa ke rumah sakit kabupaten, semua hasil
laboratorium normal. Tapi dia terus melemah.
Yang kedua adalah anak
Pak Hadi, laki-laki dua belas tahun tiba-tiba tidak mau makan dan tidak mau bicara
selama hampir seminggu. Matanya kosong. Duduk di teras seharian menatap ke arah
rumah Lastri tanpa ekspresi. Dokter bilang mungkin trauma psikologis, orangtua
Hadi tidak tahu trauma apa yang anaknya alami.
Yang ketiga adalah
kejadian yang gue sendiri tidak mau terlalu lama memikirkan. Suatu pagi gue
bangun lebih awal dari biasanya. Jam empat kurang, langit masih hitam, gue
keluar ke teras untuk ngecek perahu tetangga yang gue ikut jaga karena
pemiliknya sedang ke luar kota. Dan dari teras gue lihat Lastri, dia berdiri di
tepi pantai sendirian. Rambutnya terurai panjang dan tampak bergerak meski
tidak ada angin yang cukup kencang untuk menggerakkannya seperti itu.
Tangannya terentang ke
kedua sisi. Telapak tangannya menghadap ke atas, wajahnya menghadap ke laut. Dan
dari jaraknya sekitar lima puluh meter dari tempat gue berdiri, gue bisa lihat ada sesuatu di tangannya yang
terbakar pelan. Merah kecil di masing-masing telapak tangan. Gue berdiri diam
sangat lama, lalu Lastri menolehkan kepalanya ke arah gue. Bukan karena gue
bersuara. Gue tidak bersuara. Gue tidak bergerak, tapi dia tahu gue ada.
Dia menatap gue dari
kejauhan itu selama beberapa detik, lalu dia senyum. Gue yang sudah enam puluh
satu tahun hidup di kampung pesisir ini dan sudah terbiasa dengan hal-hal yang
tidak bisa dijelaskan, untuk pertama
kalinya dalam ingatan gue yang panjang itu, gue masuk ke dalam rumah dengan
cepat dan mengunci pintu.
Percakapan
yang Seharusnya Tidak Terjadi
Seminggu setelah
kejadian di pantai itu Lastri datang ke rumah gue. Sore hari, membawa pisang
goreng, senyumnya lebar. Istri gue persilakan masuk dan buatkan teh, gue duduk
di kursi seberang. Berusaha terlihat biasa. Lastri ngobrol santai, nanya soal
kondisi laut belakangan ini. Nanya soal tetangga yang sakit. Nanya soal jadwal
hajatan yang katanya bulan depan ada. Gue jawab semuanya pendek-pendek.
Lalu Lastri berhenti
sebentar minum tehnya. Menatap gue dengan mata yang gue tidak bisa baca.
"Pak
Sardi sering bangun pagi ya," katanya pelan.
"Biasa,
Bu. Nelayan."
"Sering
ke pantai juga?"
"Kadang-kadang."
Lastri
mengangguk. Senyumnya tidak berubah. "Pak Sardi tahu, kan, di sini ada
aturan tidak tertulis soal melihat sesuatu di pantai sebelum subuh?"
Gue
tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi gue tetap diam.
"Kata
orang-orang tua di sini," lanjut Lastri dengan nada yang sangat santai,
sangat datar, "Kalau seseorang melihat sesuatu yang bukan urusannya di
pantai sebelum subuh dan dia diam saja, tidak cerita ke siapa-siapa biasanya
tidak ada masalah. Semua baik-baik saja."
Dia
berhenti sebentar.
"Tapi
kalau dia cerita ke tetangga, ke orang tua kampung, ke siapapun, biasanya ada harga yang harus dibayar."
Istri
gue waktu itu sedang di dapur, tidak dengar percakapan ini.
Gue
menatap Lastri. Lastri menatap gue kembali.
"Bapak
sudah cerita ke siapa-siapa?" tanyanya.
Suaranya
masih lembut. Masih senyum. Tapi matanya —Matanya sudah tidak sama dengan mata
manusia yang gue kenal.
"Belum,"
kata gue. Itu bohong.
Yang
Terjadi pada Mbah Parti
Tiga hari setelah
percakapan itu, Mbah Parti sakit mendadak parah. Tidak ada yang bisa
menjelaskan. Perempuan yang selama puluhan tahun tidak pernah sakit lebih dari
masuk angin biasa itu tiba-tiba tidak bisa bangun dari kasur. Badannya dingin,
matanya setengah terbuka, napasnya berat. Cucu-cucunya panik dan membawanya ke
rumah sakit.
Sebelum dibawa, dalam
kondisi setengah sadar itu, Mbah Parti memegang tangan cucu tertuanya dan
berbisik sesuatu. Cucu itu yang gue kenal baik karena sering bantu gue di
perahu dulu menceritakan ke gue apa yang Mbah Parti bisikkan. Katanya Mbah
Parti bilang :
"Ojo kandakke Pak
Sardi. Ojo kandakke. Wis kasep." (Jangan beritahu Pak Sardi. Jangan
beritahu. Sudah terlambat.
Dua
Minggu Terakhir
Mbah Parti tidak
kembali ke kampung. Dia meninggal di rumah sakit empat hari setelah dirawat.
Dokter bilang organ-organnya mengalami kegagalan yang tidak bisa dijelaskan
secara medis untuk seseorang yang kondisi fisik sebelumnya tidak ada masalah
berarti. Istri Pak Kumis perlahan membaik setelah Mbah Parti meninggal.
Anak Pak Hadi kembali
normal, dan Lastri — Lastri terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Lebih
bercahaya, lebih muda. Lebih kuat. Seperti ada sesuatu yang dipindahkan. Gue
amati semua itu dari teras gue, sambil ngopi, sama seperti biasanya. Gue tidak
cerita ke siapa-siapa lagi, tapi gue terus mengamati.
Karena ada satu hal
yang gue notice dalam beberapa hari terakhir ini hal yang belum pernah gue
ceritakan kepada siapapun dan baru sekarang gue tuliskan pertama kalinya. Setiap
pagi, waktu gue menyapu teras ada rambut panjang di depan pintu rumah gue.
Bukan satu dua helai, ta[I puluhan. Hitam, tersusun rapi. Gue sapu, gue buang.
Keesokan paginya ada
lagi. Gue tanya istri gue apakah dia tahu dari mana rambut-rambut itu. Istri
gue menggeleng bingung.
"Lho, Pak — itu
kan rambut Bapak sendiri."
Gue terdiam.
Gue pegang sehelai
rambut yang tersisa di sapu gue. Gue lihat dengan teliti. Hitam pekat, panjang
hampir semester, dan gue baru ingat satu hal yang selama ini tidak pernah gue
permasalahkan, rambut gue sudah putih semua sejak dua belas tahun lalu.
Dusun Kalongan, pesisir
selatan Jawa. Ritual Rambut Sewu Segoro tidak meminta rambut dari lakunya. Ia
meminta rambut dari yang paling dekat dengan pelakunya, yang paling sering melihat,
yang paling banyak tahu.. Dan yang paling tidak pernah curiga bahwa sejak malam
pertama Lastri datang ke kampung ini ritual itu sudah berjalan, Pak Sardi sudah
menjadi bagian darinya tanpa pernah diminta, tanpa pernah tahu.



.jpeg)

.jpeg)
















